Posted tagged ‘budaya’

Kota nDeso

Desember 18, 2008

Masih terhitung pendek waktuku untuk menyusuri jejalanan kota ini. Belum genap satu kuartal untuk bisa mengerti kahanan, sifat, tindak-tanduk dari para sedulur asli di sini dalam persinggungannya antara budaya paternalistik dengan hegemoni globalisasi –atau katakanlah kapitalisme tanpa filter– yang sudah terasa anginnya di sini.

Saat ini, aku duduk agak tidak nyaman, dengan sesekali menengok ke arah pintu ATM, lalu mengerling ke bawah yang bertemu dengan pemandangan tiga pasang kaki di dalam ruangan ATM. Lima menit atau kurang lebihnya segitu, dibutuhkan bagi tiga orang itu untuk bertransaksi di dalam ruang ATM, waktu yang sangat jauh di atas rata-rata satu dua menitan proses transaksi.

Mengambil duit di ATM yang lokasinya hanya segelintir adalah salah satu perjuangan yang melelahkan bagiku, khususnya pada jam kerja. Dibutuhkan satu periode istirahat siang mulai dari menempatkan diri di antrian –jika itu disebut antrian– sampai dengan selesai transaksi. Menuangkan abjad demi abjad ke dalam communicator sedikit bisa mengurangi penderitaan ini. Penderitaan yang terjadi bukan karena lamanya waktu menunggu, melainkan karena menunggu untuk sesuatu yang tidak berjalan seefisien seperti yang seharusnya.
(lebih…)

Iklan

Hari Antikorupsi : Perjalanan Panjang Budaya Korupsi

Desember 10, 2008

Sejumlah anak telah bersiap-siap di tempat yang disediakan dengan harap-harap cemas, antara optimisme dan kekhawatiran akan kegagalan. Di pinggangnya terikat tali yang ujung lainnya diikatkan pada pensil dan menggantung di bawah, bergoyang-goyang di antara selangkangannya. Beberapa dari mereka mencoba menghentikan goyangan pensil itu dengan mengaturnya memakai tangan. Beberapa yang lain malahan berjoget sesuai irama melayu yang mengiringi lomba tujuh belasan ini. Satu anak lagi cuma garuk-garuk kepala memandang nanar ke arah penonton.

Sementara di pinggiran arena, penonton tampak berjubel yang didominasi ibu-ibu dari anak-anak tersebut. Beberapa berteriak memberi instruksi kepada anaknya untuk mengatur posisi, bagaimana harus menghadap, harus berjalan nantinya, dan terutama bagaimana harus memenangkan lombanya.

Tidak menunggu lama setelah aba-aba peluit dibunyikan, anak-anak itu menghambur ke depan ke arah botol diletakkan. Ada yang berlari kencang dengan resiko pensilnya bergoyang cepat, ada yang berjalan pelan mempertahankan kestabilan posisi pensil.

Memasukkan pensil yang bergoyang ke dalam botol sirup yang kecil tidaklah mudah. Ini terbukti dengan lamanya anak-anak itu mencobanya dengan posisi menungging.
(lebih…)

Dome Sweet Dome

November 17, 2008

Syahdan, pada zaman kala bendu.

! Urgent.

“Wis, dusun Nglepen. 7 KK SOS 4 hari makan telo. terisolir”

Begitu kira-kira SMS yang kuingat dari Om Kumendan tanpa merinci Nglepen itu mana atau di daerah apa. Waktu berangkat tadi hanya pesan mau menyusur dari Prambanan ke arah selatan bareng dengan barudak Trabas yang kita undang untuk BKO di posko kami (thanks to Trisman & Nigar). Aku sendiri waktu itu masih leyeh-leyeh menikmati opera wedhus gembel Merapi di salah satu posko bareng anak-anak, kalo tidak salah, dari Kutai Kertanegara.

“Nglepen itu mana e, dab ?”, konfirmku via Flexi, satu-satunya seluler yang masih lancar waktu gempa itu.

“Pokoke masih daerah Kalasan ngidul. Cedak ngomahmu. Soale aku ndak nyatet koordinate. Kasihan tenan, 4 hari terisolir. Ada rumah yang ruang tamu dengan dapurnya dipisahkan jurang. Iki langsung bablas ngidul bareng barudak. Sementara sudah ta’ dropping ransumku”.

“O… wedhus, ik“.
(lebih…)