Posted tagged ‘gempa’

Catatan Kaki Posko

September 9, 2009

laporan posko”6,8 SR, pusat gempa 200 kilometeran tenggara Wonosari. Marai kagol arep turu.”

Begitu bunyi sms dari teteh jam 23:24WIB semalam.

Semoga tidak berakibat parah karena trauma akibat kegempaan tahun 2006 lalu belum lagi hilang.

Gempa semalam mengingatkanku kembali kepada bencana gempa Tasikmalaya yang tanpa terasa hampir seminggu berjalan. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke mana saja asal dijauhkan dari tempat yang berpotensi bencana. Tiada yang lebih menyedihkan selain kehilangan tempat berteduh sekaligus sanak saudara. Barangkali hanya rasa dan tindakan kesetiakawanan saja yang masih bisa menjadi motivasi para korban untuk tetap bertahan hidup dan merintis kehidupan baru.

Di bencana kali ini, ada perasaan kehilangan pada diriku saat hanya bisa mendengar dan melihat sekaligus melewatkan momen untuk bisa mengikat diri dalam satu rasa dengan mereka; berinteraksi dan saling mengisi kekosongan hidup untuk menjadi hikayat yang penuh makna.

(lebih…)

Iklan

Mulyo, Muspro, lan Ciloko

September 4, 2009

“Anda masih bisa tertawa lepas,” sindir seorang bule.

”Emang kenapa, bro?” tanyaku, tentu saja dengan bahasa Tarzan. Aneh, bahkan Tarzan sendiri belum tentu mudheng dengan bahasa yang dibilang bahasanya.

”Orang Indonesia suka tertawa, bahkan dalam kondisi yang tidak patut untuk tertawa.”

Diriku terdiam sejenak. Mencoba merenungkan teguran dari si bule itu.

(lebih…)

Dome Sweet Dome

November 17, 2008

Syahdan, pada zaman kala bendu.

! Urgent.

“Wis, dusun Nglepen. 7 KK SOS 4 hari makan telo. terisolir”

Begitu kira-kira SMS yang kuingat dari Om Kumendan tanpa merinci Nglepen itu mana atau di daerah apa. Waktu berangkat tadi hanya pesan mau menyusur dari Prambanan ke arah selatan bareng dengan barudak Trabas yang kita undang untuk BKO di posko kami (thanks to Trisman & Nigar). Aku sendiri waktu itu masih leyeh-leyeh menikmati opera wedhus gembel Merapi di salah satu posko bareng anak-anak, kalo tidak salah, dari Kutai Kertanegara.

“Nglepen itu mana e, dab ?”, konfirmku via Flexi, satu-satunya seluler yang masih lancar waktu gempa itu.

“Pokoke masih daerah Kalasan ngidul. Cedak ngomahmu. Soale aku ndak nyatet koordinate. Kasihan tenan, 4 hari terisolir. Ada rumah yang ruang tamu dengan dapurnya dipisahkan jurang. Iki langsung bablas ngidul bareng barudak. Sementara sudah ta’ dropping ransumku”.

“O… wedhus, ik“.
(lebih…)