Posted tagged ‘korupsi’

Konspirasi Munyuk

September 16, 2009

rajamunyuk

Dulu ada masa diriku memasuki tahap di-nol-kan, yaitu suatu bentuk kewajiban mengikuti pembinaan di lingkungan militer dan secara militer. Jika bukan karena keterpaksaan tentu saja diriku ogah 100%. Bagaimana mungkin kulit Lux dan wajah Natasha-ku harus bergumul dengan deru debu?

Di dalam masa orientasinya tentu saja berbagai macam doktrin coba ditanamkan di otakku melalui berbagai acara yang benar-benar menyiksa fisik dan mental.

“Hai, kau!” hardik salah seorang tentara waktu itu.

“Siap!” jawabku sigap.

“Kau pasti benci terhadap tentara. Hayo ngaku !!!”

“Saya lebih benci polisi daripada tentara. Apalagi polisi yang gendut,” jawabku sekenanya sekedar menyelamatkan diri dari push up, guling-guling, atau slulup di selokan.

“Bagus!” tukas tentara itu sembari mrenges cengengesan.

Asem tenan…

Hehe…

(lebih…)

Pahlawan Salah Zaman

Mei 7, 2009

Si Fulan, yang bertampang sangar, badan penuh tatto, dan berlatar belakang yang sangat berlumuran dosa dihadapkan kepada Raja. Sang Raja bertitah bahwa jika Si Fulan bisa memenuhi tugas Sang Raja atau kerajaan, maka Raja akan mengampuni semua dosanya. Bahkan tidak hanya itu, Si Fulan akan dijadikan hulubalang istana, satu posisi yang sangat penting dalam struktur kerajaan.

Ketika Si Fulan berhasil menjalankan amanat Raja, seluruh kerajaan pun bersorak bergembira menyambutnya sebagai pahlawan baru sekaligus hulubalang istana.

Ada banyak ragam cerita jadul lainnya yang serupa, yang berisikan tentang nilai hidup seseorang yang berada dalam timbangan baik atau buruk, pahlawan atau pengecut, lakon atau bandit. Semuanya mengerucut ke satu sistem tatanan nilai yang hampir sama bahwa kesetimbangan atas nilai baik dan buruk itu begitu fleksibel, tergantung dari cara lingkungan norma untuk mengadilinya.
(lebih…)

Hari Antikorupsi : Perjalanan Panjang Budaya Korupsi

Desember 10, 2008

Sejumlah anak telah bersiap-siap di tempat yang disediakan dengan harap-harap cemas, antara optimisme dan kekhawatiran akan kegagalan. Di pinggangnya terikat tali yang ujung lainnya diikatkan pada pensil dan menggantung di bawah, bergoyang-goyang di antara selangkangannya. Beberapa dari mereka mencoba menghentikan goyangan pensil itu dengan mengaturnya memakai tangan. Beberapa yang lain malahan berjoget sesuai irama melayu yang mengiringi lomba tujuh belasan ini. Satu anak lagi cuma garuk-garuk kepala memandang nanar ke arah penonton.

Sementara di pinggiran arena, penonton tampak berjubel yang didominasi ibu-ibu dari anak-anak tersebut. Beberapa berteriak memberi instruksi kepada anaknya untuk mengatur posisi, bagaimana harus menghadap, harus berjalan nantinya, dan terutama bagaimana harus memenangkan lombanya.

Tidak menunggu lama setelah aba-aba peluit dibunyikan, anak-anak itu menghambur ke depan ke arah botol diletakkan. Ada yang berlari kencang dengan resiko pensilnya bergoyang cepat, ada yang berjalan pelan mempertahankan kestabilan posisi pensil.

Memasukkan pensil yang bergoyang ke dalam botol sirup yang kecil tidaklah mudah. Ini terbukti dengan lamanya anak-anak itu mencobanya dengan posisi menungging.
(lebih…)

Simbah dan Air Bah

November 13, 2008

“Ditutup itu hek-nya”, perintah simbah.

Aku yang dasarnya suka main air banjir segera nyemplung ke halaman dengan paha ke bawah terendam air. Untuk menutup hek atau pagar halaman, supaya segala macam barang yang pating kemampul terbawa banjir tidak masuk halaman. Namun usaha ini bisa dibilang sia-sia, mengingat benda-benda yang terbawa banjir berukuran relatif kecil sehingga bisa masuk di celah-celah pagar. Minimal ada si kuning berlayar selalu transit bahkan ngetem di halaman.

“Jaman walondo tidak ada yang beginian. Overstroomd…”, omel simbah.

Memang selalu begitu. Setiap ada kekesalan yang berhubungan dengan ketidakmampuan penguasa dalam mengelola negaranya, simbah selalu membandingkan dengan kondisi pada saat pemerintahan kolonial Belanda waktu itu. Jika kekesalannya itu tidak ingin ditanggapi oleh orang lain lain, beliau ngomyang dengan boso londojowo, yang bahkan mungkin tidak bisa dimengerti oleh wong londo dan wong jowo sendiri.

“Yang penting sekarang kan kita merdeka”, sahutku sambil mencuci kaki dari air bersih di ember.

Opschepper…”, timpal simbah,”apa yang kamu tahu?”
(lebih…)